Minggu, 09 Oktober 2022

Jatuh Hati

Kamu pasti pernah merasakan betapa senangnya melihat seseorang yang kamu sukai. Entah seseorang itu sedang rapih atau sedang berantakan atau dengan muka bantal bangun tidurnya. Kamu pasti pernah merasakan rasanya berbunga-bunga, tersenyum sendiri hingga hampir di sebut gila, dan salah tingkah sendiri saat bersama orang tersebut. Ya, itu lah yang aku rasakan kemarin. Kusebut kemarin karena sekarang rasa itu sudah patah sepatah-patahnya. 

Jatuh hati. Kenapa bukan jatuh cinta? tidak banyak alasan aku memberi judul jatuh hati, aku hanya ingin membahas kata dari jatuh hati tersebut karena cintaku sudah ku kubur dalam-dalam. back to tittle. Jatuh hati. Jatuh dan hati. Jatuh hati memang indah tapi aku lupa kalau aku akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Jatuh terlalu dalam menaruh hati padanya, Jatuh sejatuh-jatuhnya juga saat perasaanku disingkirkan. Aku terlalu menghiraukan rasanya terjatuh. Aku... sangat ceroboh untuk terjatuh. Ku jaga hati ini baik-baik supaya tetap aman dan tentram dengan diriku. Kujaga baik-baik agar ku berikan ke seseorang yang tepat dengan seutuh-utuhnya tanpa luka atau cacat sedikitpun. kujaga hati ini tetap aman. Kulihat keseriusan dia dengan diriku, janji-janjinya padaku yang membuatku yakin, dirinya yang coba kupahami dan mengerti, kupercayakan dia untuk menjaga hatiku. Ku beri dia hati ku baik-baik dengan kepercayaan yang aku titipkan padanya. 

Ternyata dunia tidak tidur. Seberapa bagus dan rapihnya rencana hidup yang telah ku atur, seketika runtuh hancur lebur menjadi puing-puing oleh kejutan yang tiba-tiba datang dari dunia ini. Hatiku dipatahkan dunia yang bahkan tak ada satu pun yang menyatu, hatiku dijatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh dunia ke dataran yang kasar, hatiku dihempas, dibuang, dibakar hingga menjadi debu yang dibawa angin. 

Hal yang paling aku takuti yaitu menyayangi seseorang. Aku tau akhirnya akan seperti apa jika aku menyayangi seseorang. Aku tau aku tidak akan disayangi kembali jika aku sudah menyayangi seseorang. Aku berharap yang pertama adalah akhir ceritaku. Aku tidak terfikir dan mengharapkan yang kedua, ketiga bahkan keempat. Saat kujatuhkan hatiku, aku jatuhkan sedalam-dalamnya kuberi semua ketulusanku, kuberi semua kekuranganku, ku beri semua tentang diriku, ceritaku, pengalamanku yang tidak banyak diketahui orang sekitarku. 

Aku... tidak mengharapkan seseorang berpura-pura baik-baik saja dihadapanku. Aku... tidak mengharapkan seseorang yang tidak bahagia saat bersamaku. Aku... sudah terlalu banyak menyakiti orang. Aku juga.... sudah terlalu banyak mengecewakan orang-orang yang aku sayangi. Aku yang egois dan hanya memikirkan diri sendiri ini pantas mendapatkan rasa sakit seperti ini. Aku tidak pantas untuk bahagia dan tersenyum seenakku lagi. Aku tidak boleh seegois itu dengan bahagia yang tidak seharusnya aku miliki ini. Maaf, aku sudah mengecewakan diriku sendiri. 

Aku kira aku hanya bodoh dan ceroboh dalam hidupku, ternyata soal hati juga demikian. 💔

-Serang

Sabtu, 02 April 2022

Menutup Diri

Dunia ini tidak selalu tentang aku. Tidak semua orang harus tau tentang aku. Tentang hidupku,  masalahku, hambatanku, perasaanku semua orang ga harus tau bahkan ga perlu tau. Karena aku tau, seberapa sering mulut ku berbagi cerita dengan orang terdekat pun, mereka tak benar-benar mendengarkan. Ya,  mereka hanya ingin tau. Atau bahkan tak ingin tau. 

Aku tau orang sekitarku juga bahkan pasti mempunyai masalahnya sendiri. Saat mereka bercerita dan berkeluh kesah. Aku mendengarkan, menyimak,  dan jika aku mampu akupun memberi solusi. Tetapi aku tidak mendapatkan itu dari cerita yg ku berikan. Apa karena ceritaku terlalu rumit? tidak mungkin, pasti karena membosankan, monoton,  atau memang hidupku tidak menarik.

Aku sadar,  aku terlalu banyak membuka suara hidupku. Aku terlalu banyak bercerita sana sini,  mungkin sampai orang sekitarku pun bosan mendengarnya. Tetapi tidak lupa kuucapkan banyak terima kasih kepada orang disekitarku yang sudah mendengarkan cerita dan keluh kesahku dengan sungguh-sungguh. Aku benar-benar berterima kasih karena sudah didengar.  Terima kasih. 

Aku rasa keputusan yang bagus untuk menutup rapat-rapat hidupku, menutup rapat-rapat semua tentang masalahku,  tentang perasaanku. Aku rasa sudah lebih dari cukup berbagi cerita tentangku kepada orang disekitarku.  Untuk saat ini dan yang akan mendatang alangkah baiknya jika kuselesaikan sendiri segala tentangku. Aku sadar semua tentangku, ceritaku, perasaanku,  hanya diriku lah solusinya.

Berfikir dalam diam.

Berteriak dalam hening.

Berekspresi dalam sunyi.