Rabu, 26 Juni 2019

DIENG


Gunung Sikunir

              Senin, 24 juni 2019. Saat matahari belum mengeluarkan sinarnya, aku dan saudaraku sudah siap untuk mengunjungi tujuan kita sejak awal, yaitu Gunung Sikunir.
              Bermodal mata sayup dan badan yg menggigil karena dinginnya udara yg  berhembus, kami sudah sangat siap untuk menuju tempat tujuan.
              Sesampainya di lokasi, tanpa basa-basi, kami berjalan menuju puncak gunung sikunir. Rute yg dipenuhi anak tangga membuat kami kelelahan dan sulit untuk mengatur nafas yg tak beraturan. Kami berhenti sejenak lalu lanjut berjalan lagi begitu seterusnya.
              Diperjalanan kulihat diantara kami, ada yg berhenti dan memutuskan kembali ke bawah karena tidak kuat menaiki anak tangga dan sulit mengatur nafas dan ada juga yg memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai ditujuan.
              Diperjalan ke atas, sejenak ku lihat sampingku, terlihat seorang ibu yg menggendong anaknya sambil naik ke atas dan tersenyum kepadaku seperti tak ada lelah diraut mukanya dan ku balas senyumnya sembari menyemangatinya.
              Sesampainya dipuncak, kami beristirahat sejenak untuk mengurangi rasa lelah. Setelah kami merasa sudah sedikit lebih baik kami menoleh ke arah depan dan melihat pemandangan yg begitu indah. Semua lelah kami tadi seperti hilang begitu saja dibawa pergi oleh angin. Matahari yg perlahan muncul di belahan dua gunung, awan putih yg bersih dan berhembus menusuk ke kulit, dan burung yg lewat melintasi kerumunan orang-orang yg sibuk berfoto. Sungguh keindahan yg tiada duanya.
              Pelajaran yg dapat kuambil dari menaiki Gunung Sikunir. Pertama, aku dapat melihat kalau kita bersungguh-sungguh dengan apa yg kita mau, kita pasti akan mendapatkannya sama seperti yg aku lihat saat ada yg menyerah untuk melanjutkan perjalanan dan ada yg terus berjalan untuk melanjutkan perjalanan. Kedua, saat aku melihat ibu yg menggendong anaknya saat menaiki gunung, aku mengingat ibuku dan berfikir beginilah perjuangan ibuku untuk mendewasakanku, terus berjalan ke atas sambil membimbingku dengan senyum tulusnya tanpa sedikit pun memperlihatkan rasa lelahnya.
                Aku harus mencari apa yg mau kutuju dan aku harus berusaha dengan tujuanku itu, serta berdoa dan berusaha akan tujuanku. Aku memang bukan yg terbaik untuk ibuku dan terkadang masih sering menyakitinya, tetapi aku berusaha untuk menjadi yg terbaik, berusaha untuk selalu menghormatinya meski terkadang tak sependapat dan juga selalu mendoakan ibu dan bapakku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar